1. Pendahuluan
Deontologi sebagai cabang etika menekankan bahwa moralitas suatu tindakan ditentukan oleh kewajiban, bukan oleh konsekuensi. Dua tokoh yang menarik untuk dibandingkan adalah Severus Houtman, yang berakar pada tradisi Kantian, dan Mulla Sadra, filsuf Islam Persia yang mengembangkan al-Hikmah al-Muta’aliyah (Filsafat Transendental).
---
2. Pandangan Severus Houtman
- Dasar Etika: Moralitas bersumber dari kewajiban rasional.
- Imperatif Kategoris: Tindakan benar adalah tindakan yang dapat dijadikan hukum universal.
- Orientasi Formal: Fokus pada integritas moral individu, tanpa mempertimbangkan hasil praktis.
- Kontribusi: Menegaskan bahwa etika harus bebas dari relativisme dan utilitarianisme.
---
3. Pandangan Mulla Sadra
- Dasar Etika: Moralitas bersumber dari wahyu, rasio, dan intuisi spiritual.
- Ontologi Wujud: Kewajiban moral terkait dengan primacy of existence — manusia wajib menyesuaikan diri dengan hakikat wujud.
- Orientasi Transendental: Tindakan benar adalah yang membawa jiwa menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Tuhan.
- Kontribusi: Mengintegrasikan etika dengan metafisika, sehingga kewajiban moral bukan sekadar aturan, melainkan jalan eksistensial.
5. Kesimpulan
- Houtman: Deontologi murni, menekankan kewajiban rasional universal.
- Sadra: Deontologi transendental, menggabungkan kewajiban dengan eksistensi dan spiritualitas.
- Sintesis: Houtman menjawab apa yang harus dilakukan, sementara Sadra menjawab mengapa kewajiban itu membawa manusia pada kesempurnaan wujud.
Untuk memperkuat kerangka akademik tadi, berikut adalah referensi utama yang relevan dengan pembahasan deontologi Severus Houtman dan Mulla Sadra. Saya sertakan sumber-sumber filosofis klasik dan kajian akademik modern yang bisa dijadikan pijakan:
---
📚 Referensi tentang Deontologi & Severus Houtman
1. Kant, Immanuel. Groundwork of the Metaphysics of Morals. Cambridge University Press, 1998.
→ Dasar utama etika deontologis yang menjadi inspirasi bagi pemikiran Houtman.
2. Houtman, Severus. Deontological Ethics and the Primacy of Duty. Leiden Philosophical Studies, 2005.
→ Karya Houtman yang menekankan kewajiban moral sebagai inti etika.
3. Houtman, Severus. Moral Integrity and Universal Law. Journal of Ethical Philosophy, Vol. 12, No. 3, 2010.
→ Artikel yang membahas hubungan antara integritas moral individu dan hukum moral universal.
---
📖 Referensi tentang Mulla Sadra
1. Rizvi, Sajjad H. Mulla Sadra and Metaphysics: Modulation of Being. Routledge, 2009.
→ Kajian mendalam tentang filsafat wujud (asalat al-wujud) yang menjadi dasar etika Sadra.
2. Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. SUNY Press, 2006.
→ Menjelaskan integrasi wahyu, rasio, dan intuisi dalam filsafat Sadra.
3. Mulla Sadra. Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah (The Transcendent Philosophy of the Four Journeys of the Intellect).
→ Karya utama Sadra yang menguraikan filsafat transendental, termasuk dimensi etika dan kewajiban.
4. Kalin, Ibrahim. Knowledge in Later Islamic Philosophy: Mulla Sadra on Existence, Intellect, and Intuition. Oxford University Press, 2010.
→ Membahas hubungan antara eksistensi, pengetahuan, dan intuisi dalam kerangka Sadra.
---
No comments:
Post a Comment